mayangmangurai

Kenali 6 Pemicu Nyeri

Posted on: Januari 25, 2012

shutterstock

Rasa nyeri memang tidak bisa dilihat, namun saat kita merasakannya, sulit untuk memikirkan hal lain selain nyeri. Sebenarnya nyeri merupakan sinyal bahwa tubuh kita memerlukan perhatian.

“Kebanyakan dokter hanya meresepkan obat untuk menutupi nyerinya. Solusi terbaik sebenarnya adalah mengatasi akar masalahnya,” kata Jacob Teitelbaum, penulis buku Real Cause, Real Cure.

Bila Anda merasakan nyeri kronik yang sudah berlangsung sekitar enam bulan atau nyeri akut yang diakibatkan cedera atau gerakan yang berlebihan, sebaiknya hindari penggunaan pereda nyeri terus menerus. Simak enam pemicu nyeri berikut :

1. Rasa marah

Menyimpan rasa marah ternyata bisa menyebabkan timbulnya perasaan nyeri pada punggung. Dalam penelitian, orang-orang yang memilih untuk memendam rasa marahnya mengalami tekanan lebih pada otot-otot di sepanjang tulang belakang.

2. Sikap tubuh yang salah

Penggunaan komputer yang terlalu lama tanpa diimbangi sikap tubuh yang benar bisa menyebabkan nyeri. Meski duduk diam bukan sebuah aktivitas fisik yang mengerahkan tenaga, ternyata sikap statis dalam waktu lama akan mengganggu aliran darah dan kelenjar getah bening sehingga otot menjadi tegang dan kaku.

4. Si ponsel pintar

Berkat si ponsel pintar, kini kita semakin mudah terhubung dengan teman dan mencari informasi terbaru. Namun, ponsel pintar ini ternyata juga menjadi biang keladi rasa nyeri. Hal ini terutama jika Anda terbiasa “memegang” ponsel dengan cara menjepitnya di antara pundak dan telinga sehingga kedua tangan bebas melakukan pekerjaan lain.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut akan menyebabkan ketegangan pada bagian leher, pundak, bahkan pergelangan tangan. Siasati dengan menggunakan earphone jika Anda berniat ngobrol dalam waktu agak lama.

5. Berpikir buruk

Catasthorphing, atau meyakini situasinya lebih buruk dari kenyataan bukan hanya menambah rasa stres tapi juga menganggu kemampuan seseorang untuk menghadapi keseharian. Berbagai studi telah mengaitkan catastrophizing dengan meningkatnya persepsi akan rasa nyeri.

“Emosi dan nyeri diproses dalam area otak yang sama. Sehingga jika kita stres atau cemas, secara alami kita juga akan merasakan nyeri fisik,” kata Andrew Bertagnolli, anggota dewan kepala American Chronic Pain Association.

6. Kurang tidur

Tubuh kita menghasilkan hormon pertumbuhan saat kita sedang tidur. Hormon ini diperlukan jaringan tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak sekaligus mengatasi rasa nyeri. Karena itu orang yang menderita insomnia beresiko tiga kali lipat menderita nyeri kronik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: